Perbedaan Batik Tulis dan Batik Cap

"Batik Tulis" Batik Tulis adalah warisan leluhur bangsa Indonesia. Perkembangan batik pada masa sekarang cukup menggembirakan, hal ini berdampak positif bagi produsen batik-batik di berbagai daerah. Permintaan batik tulis maupun batik cap sangat tinggi sekali, walaupun kebutuhan pasar batik tersebut sebagian sudah dipenuhi dengan tekstil bermotif batik yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan tekstil yang bermodal besar. Banyak diantara kita masih sangant awam dengan Batik Tulis, bahkan mungkin anda sulit atau tidak bisa membedakan mana yang batik tulis mana yang batik cap.
Perbedaan batik tulis dan batik cap bisa dilihat dari beberapa hal sbb:

Batik Tulis
  • Dikerjakan dengan menggunakan canting yaitu alat yang terbuat dari tembaga yang dibentuk bisa menampung malam (lilin batik) dengan memiliki ujung berupa saluran/pipa kecil untuk keluarnya malam dalam membentuk gambar awal pada permukaan kain.
  • Bentuk gambar/desain pada batik tulis tidak ada pengulangan yang jelas, sehingga gambar nampak bisa lebih luwes dengan ukuran garis motif yang relatif bisa lebih kecil dibandingkan dengan batik cap.
  • Gambar batik tulis bisa dilihat pada kedua sisi kain nampak lebih rata (tembus bolak-balik) khusus bagi batik tulis yang halus.
  • Warna dasar kain biasanya lebih muda dibandingkan dengan warna pada goresan motif (batik tulis putihan/tembokan).
  • Setiap potongan gambar (ragam hias) yang diulang pada lembar kain biasanya tidak akan pernah sama bentuk dan ukurannya. Berbeda dengan batik cap yang kemungkinannya bisa sama persis antara gambar yang satu dengan gambar lainnya.
  • Waktu yang dibutuhkan untuk pembuatan batik tulis relatif lebih lama (2 atau 3 kali lebih lama) dibandingkan dengan pembuatan batik cap. Pengerjaan batik tulis yang halus bisa memakan waktu 3 hingga 6 bulan lamanya.
  • Alat kerja berupa canting harganya relatif lebih murah berkisar Rp. 10.000,- hingga Rp. 20.000,-/pcs.
  • Harga jual batik tulis relatif lebih mahal, dikarenakan dari sisi kualitas biasanya lebih bagus, mewah dan unik.

Batik Cap
  • Dikerjakan dengan menggunakan cap (alat yang terbuat dari tembaga yang dibentuk sesuai dengan gambar atau motif yang dikehendaki). Untuk pembuatan satu gagang cap batik dengan dimensi panjang dan lebar : 20 cm X 20 cm dibutuhkan waktu rata-rata 2 minggu.
  • Bentuk gambar/desain pada batik cap selalu ada pengulangan yang jelas, sehingga gambar nampak berulang dengan bentuk yang sama, dengan ukuran garis motif relatif lebih besar dibandingkan dengan batik tulis.
  • Gambar batik cap biasanya tidak tembus pada kedua sisi kain.
  • Warna dasar kain biasanya lebih tua dibandingkan dengan warna pada goresan motifnya. Hal ini disebabkan batik cap tidak melakukan penutupan pada bagian dasar motif yang lebih rumit seperti halnya yang biasa dilakukan pada proses batik tulis. Korelasinya yaitu dengan mengejar harga jual yang lebih murah dan waktu produksi yang lebih cepat. Waktu yang dibutuhkan untuk sehelai kain batik cap berkisar 1 hingga 3 minggu.
  • Untuk membuat batik cap yang beragam motif, maka diperlukan banyak cap. Sementara harga cap batik relatif lebih mahal dari canting. Untuk harga cap batik pada kondisi sekarang dengan ukuran 20 cm X 20 cm berkisar Rp. 350.000,- hingga Rp. 700.000,-/motif. Sehingga dari sisi modal awal batik cap relatif lebih mahal.
  • Jangka waktu pemakaian cap batik dalam kondisi yang baik bisa mencapai 5 tahun hingga 10 tahun, dengan catatan tidak rusak. Pengulangan cap batik tembaga untuk pemakainnya hampir tidak terbatas.
  • Harga jual batik cap relatif lebih murah dibandingkan dengan batik tulis, dikarenakan biasanya jumlahnya banyak dan miliki kesamaan satu dan lainnya tidak unik, tidak istimewa dan kurang eksklusif.

Motif Puspo Baskoro


CODE: MPB



Deskripsi:
Bahan: Katun Halus .
Ukuran : P 2 x L 1.15 meter

Anda dapat memesan dengan bahan dan warna yang lain
Harga: Rp.350.000
Status Stok Habis

Jika anda ingin memesan produk ini kami akan membuatnya dulu dengan waktu 20 hari

Motif Merak Ngigel

CODE: MMN



Deskripsi:
Bahan: Katun Halus .
Ukuran : P 2 x L 1.15 meter

Anda dapat memesan dengan bahan dan warna yang lain
Harga: Rp.350.000
Status Stok Habis

Jika anda ingin memesan produk ini kami akan membuatnya dulu dengan waktu 20 hari

Motif Limaran

CODE: ML


Deskripsi:
Bahan: Katun Halus .
Ukuran : P 2 x L 1.15 meter

Anda dapat memesan dengan bahan dan warna yang lain
Harga: Rp.350.000
Status Stok Habis

Jika anda ingin memesan produk ini kami akan membuatnya dulu dengan waktu 20 hari

Motif Ungker Cantel

CODE     : MUC



Deskripsi:
Bahan: Katun Halus .
Ukuran : P 2 x L 1.15 meter

Anda dapat memesan dengan bahan dan warna yang lain
Harga: Rp.400.000
Status Stok Habis

Jika anda ingin memesan produk ini kami akan membuatnya dulu dengan waktu 20 hari

Motif Ongkek-Ongkek

CODE     : MOO



Deskripsi:
Bahan: Katun Halus .
Ukuran : P 2 x L 1.15 meter

Anda dapat memesan dengan bahan dan warna yang lain
Harga: Rp.150.000
Status Ada Stok

Motif Loek Chan

CODE     : MLC



Deskripsi:
Bahan: Katun Halus .
Ukuran : P 2 x L 1.15 meter

Anda dapat memesan dengan bahan dan warna yang lain
Harga: Rp.250.000
Status Ada Stok

Motif Kupu Kasmaran

CODE    : MKK



Deskripsi:
Bahan: Katun Halus .
Ukuran : P 2 x L 1.15 meter

Anda dapat memesan dengan bahan dan warna yang lain
Harga      : Rp.170.000
Status Ada Stok

Motif Kembang Druju

                            
                          Warna Putih                                  Warna Putih dengan Kuning

Code       : MKD



Deskripsi:
Bahan: Katun Halus .
Ukuran : P 2 x L 1.15 meter

Anda dapat memesan dengan bahan dan warna yang lain
Harga: Rp.160.000
Status Ada Stok

Motif Anggrek Hutan

Code       : MAH



Deskripsi:
Bahan: Katun Halus .
Ukuran : P 2 x L 1.15 meter

Anda dapat memesan dengan bahan dan warna yang lain
Harga: Rp.170.000
Status Ada Stok

Motif Anggrek Pohon

Code     : MAP



Deskripsi:
Bahan: Katun Halus .
Ukuran : P 2 x L 1.15 meter

Anda dapat memesan dengan bahan dan warna yang lain
Harga: Rp.170.000
Status Ada Stok

Motif Bunga Burung

Code        : MBB



Deskripsi:
Bahan: Katun Halus .
Ukuran : P 2 x L 1.15 meter

Anda dapat memesan dengan bahan dan warna yang lain
Harga: Rp.250.000
Status Ada Stok

Motif Gelombang Cinta

Code        : MGC



Deskripsi:
Bahan: Katun Halus .
Ukuran : P 2 x L 1.15 meter

Anda dapat memesan dengan bahan dan warna yang lain
Harga: Rp.160.000
Status Ada Stok

Motif Lung Kupu


Code       : MLK



Deskripsi:
Bahan: Katun Halus .
Ukuran : P 2 x L 1.15 meter

Anda dapat memesan dengan bahan dan warna yang lain
Harga: Rp.230.000
Status Ada Stok

Batik

Batik adalah salah satu cara pembuatan bahan pakaian. Selain itu batik bisa mengacu pada dua hal. Yang pertama adalah teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain. Dalam literatur internasional, teknik ini dikenal sebagai wax-resist dyeing. Pengertian kedua adalah kain atau busana yang dibuat dengan teknik tersebut, termasuk penggunaan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan. Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober, 2009.

Etimologi
Kata "batik" berasal dari gabungan dua kata bahasa Jawa: "amba", yang bermakna "menulis" dan "titik" yang bermakna "titik".
Sejarah teknik batik

Tekstil batik dari Niya (Cekungan Tarim), Tiongkok

Detail ukiran kain yang dikenakan Prajnaparamita, arca yang berasal dari Jawa Timur abad ke-13. Ukiran pola kembang-kembang yang rumit ini mirip dengan pola batik tradisional Jawa kini.

Seni pewarnaan kain dengan teknik pencegahan pewarnaan menggunakan malam adalah salah satu bentuk seni kuno. Penemuan di Mesir menunjukkan bahwa teknik ini telah dikenal semenjak abad ke-4 SM, dengan diketemukannya kain pembungkus mumi yang juga dilapisi malam untuk membentuk pola. Di Asia, teknik serupa batik juga diterapkan di Tiongkok semasa Dinasti T'ang (618-907) serta di India dan Jepang semasa Periode Nara (645-794). Di Afrika, teknik seperti batik dikenal oleh Suku Yoruba di Nigeria, serta Suku Soninke dan Wolof di Senegal.
Di Indonesia, batik dipercaya sudah ada semenjak zaman Majapahit, dan menjadi sangat populer akhir abad XVIII atau awal abad XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad XX dan batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I atau sekitar tahun 1920-an.

Walaupun kata "batik" berasal dari bahasa Jawa, kehadiran batik di Jawa sendiri tidaklah tercatat. G.P. Rouffaer berpendapat bahwa tehnik batik ini kemungkinan diperkenalkan dari India atau Srilangka pada abad ke-6 atau ke-7. Di sisi lain, J.L.A. Brandes (arkeolog Belanda) dan F.A. Sutjipto (arkeolog Indonesia) percaya bahwa tradisi batik adalah asli dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Perlu dicatat bahwa wilayah tersebut bukanlah area yang dipengaruhi oleh Hinduisme tetapi diketahui memiliki tradisi kuna membuat batik.

G.P. Rouffaer juga melaporkan bahwa pola gringsing sudah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur. Dia menyimpulkan bahwa pola seperti ini hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting, sehingga ia berpendapat bahwa canting ditemukan di Jawa pada masa sekitar itu.
Detil ukiran kain yang menyerupai pola batik dikenakan oleh Prajnaparamita, arca dewi kebijaksanaan buddhis dari Jawa Timur abad ke-13. Detil pakaian menampilkan pola sulur tumbuhan dan kembang-kembang rumit yang mirip dengan pola batik tradisional Jawa yang dapat ditemukan kini. Hal ini menunjukkan bahwa membuat pola batik yang rumit yang hanya dapat dibuat dengan canting telah dikenal di Jawa sejak abad ke-13 atau bahkan lebih awal.

Legenda dalam literatur Melayu abad ke-17, Sulalatus Salatin menceritakan Laksamana Hang Nadim yang diperintahkan oleh Sultan Mahmud untuk berlayar ke India agar mendapatkan 140 lembar kain serasah dengan pola 40 jenis bunga pada setiap lembarnya. Karena tidak mampu memenuhi perintah itu, dia membuat sendiri kain-kain itu. Namun sayangnya kapalnya karam dalam perjalanan pulang dan hanya mampu membawa empat lembar sehingga membuat sang Sultan kecewa.[5] Oleh beberapa penafsir, who? serasah itu ditafsirkan sebagai batik.

Dalam literatur Eropa, teknik batik ini pertama kali diceritakan dalam buku History of Java (London, 1817) tulisan Sir Thomas Stamford Raffles. Ia pernah menjadi Gubernur Inggris di Jawa semasa Napoleon menduduki Belanda. Pada 1873 seorang saudagar Belanda Van Rijekevorsel memberikan selembar batik yang diperolehnya saat berkunjung ke Indonesia ke Museum Etnik di Rotterdam dan pada awal abad ke-19 itulah batik mulai mencapai masa keemasannya. Sewaktu dipamerkan di Exposition Universelle di Paris pada tahun 1900, batik Indonesia memukau publik dan seniman.

Semenjak industrialisasi dan globalisasi, yang memperkenalkan teknik otomatisasi, batik jenis baru muncul, dikenal sebagai batik cap dan batik cetak, sementara batik tradisional yang diproduksi dengan teknik tulisan tangan menggunakan canting dan malam disebut batik tulis. Pada saat yang sama imigran dari Indonesia ke Persekutuan Malaya juga membawa batik bersama mereka.

Pahlawan wanita R.A. Kartini dan suaminya memakai rok batik. Batik motif parang yang dipakai Kartini adalah pola untuk para bangsawan
Budaya batik
Pahlawan wanita R.A. Kartini dan suaminya memakai rok batik. Batik motif parang yang dipakai Kartini adalah pola untuk para bangsawan

Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya "Batik Cap" yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak "Mega Mendung", dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki.

Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.


Batik Cirebon bermotif mahluk laut

Batik merupakan warisan nenek moyang Indonesia (Jawa) yang sampai saat ini masih ada. Batik juga pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh Presiden Soeharto, yang pada waktu itu memakai batik pada Konferensi PBB.

Batik dipakai untuk membungkus seluruh tubuh oleh penari Tari Bedhoyo Ketawang di keraton jawa.

Corak batik

Ragam corak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh Tionghoa, yang juga memopulerkan corak phoenix. Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru. Batik tradisonal tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing.

Cara pembuatan

Semula batik dibuat di atas bahan dengan warna putih yang terbuat dari kapas yang dinamakan kain mori. Dewasa ini batik juga dibuat di atas bahan lain seperti sutera, poliester, rayon dan bahan sintetis lainnya. Motif batik dibentuk dengan cairan lilin dengan menggunakan alat yang dinamakan canting untuk motif halus, atau kuas untuk motif berukuran besar, sehingga cairan lilin meresap ke dalam serat kain. Kain yang telah dilukis dengan lilin kemudian dicelup dengan warna yang diinginkan, biasanya dimulai dari warna-warna muda. Pencelupan kemudian dilakukan untuk motif lain dengan warna lebih tua atau gelap. Setelah beberapa kali proses pewarnaan, kain yang telah dibatik dicelupkan ke dalam bahan kimia untuk melarutkan lilin. Dangeng_club

Jenis batik

Menurut teknik
  • Batik tulis adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik menggunakan tangan. Pembuatan batik jenis ini memakan waktu kurang lebih 2-3 bulan.
  • Batik cap adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik yang dibentuk dengan cap (biasanya terbuat dari tembaga). Proses pembuatan batik jenis ini membutuhkan waktu kurang lebih 2-3 hari.
  • Batik lukis adalah proses pembuatan batik dengan cara langsung melukis pada kain putih.
Menurut asal pembuatan
Batik Jawabatik Jawa adalah sebuah warisan kesenian budaya orang Indonesia, khususnya daerah Jawa yang dikuasai orang Jawa dari turun temurun. Batik Jawa mempunyai motif-motif yang berbeda-beda. Perbedaan motif ini biasa terjadi dikarnakan motif-motif itu mempunyai makna, maksudnya bukan hanya sebuah gambar akan tetapi mengandung makna yang mereka dapat dari leluhur mereka, yaitu penganut agama animisme, dinamisme atau Hindu dan Buddha. Batik jawa banyak berkembang di daerah Solo atau yang biasa disebut dengan batik Solo.

Kenapa Batik Menjadi Mahal

KOMPAS.com - Ditetapkannya batik sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO, dan peringatannya setiap tanggal 2 Oktober, seharusnya membuat kita semakin memahami apa yang disebut sebagai batik. Yang dijadikan warisan budaya tersebut adalah proses membatiknya, bukan kain dengan motif batik seperti yang kerap dipersepsikan orang kebanyakan. Proses membatik akan menghasilkan batik dengan jenis tulis, yang harganya berkali-kali lipat dibandingkan dengan batik yang melalui proses cap atau printing. Mengapa pula harga selembar kain batik tulis bisa mencapai jutaan hingga puluhan juta rupiah?

Bayangkan saja, sehelai kain ukuran 2,5 m yang menampilkan suatu karya batik, ternyata membutuhkan waktu pembuatan hingga tiga bulan. Proses pembuatan yang begitu lama jelas menuntut kesabaran, ketelitian, dan cita rasa yang tinggi. Bagaimanapun, nilai batik akan meningkat bila pembatik mampu menghasilkan batik dengan tingkat kesulitan yang tinggi.
"Nilai jualnya tergantung dari keunikan kainnya, batikan, dan warnanya. Kalau desainnya langka, dan tak bisa ditiru, itu akan menentukan harganya," jelas Nur Cahyo, pemilik Rumah Batik Cahyo, saat menemani wartawan menyaksikan berbagai tahapan pembuatan batik di tempat workshop-nya di Desa Setono, Pekalongan, Kamis (16/12/2010).

Proses pembuatan batik juga melibatkan banyak orang dengan keahliannya masing-masing. Dari tahap awal, yaitu pembuat pola yang membuat desain batik (molani), pembatik -yang memindahkan pola ke atas kain, dan melukisnya dengan menggunakan canting, lalu menutup bagian-bagian yang tidak berwarna dengan lilin (malam), pewarnaan, nglorod (proses membilas atau meluruhkan lapisan malam), hingga mencuci dan
kemudian menjemurnya hingga siap dipakai.
Seorang yang menguasai pembuatan batik tentu mampu melakukan seluruh tahapan ini. Termasuk, dos & don'ts dalam melakukan setiap tahapan tersebut.

Cahyo, misalnya, sudah 15 tahun ia mencurahkan seluruh hidupnya untuk melanjutkan usaha batik milik ayahnya. Cahyo mampu mengolah desain batik, menciptakan warna yang dihasilkan dari bahan-bahan alami seperti kayu tingi, secang, mahoni, jambal, tegeran, atau jelawe. Ia lah yang bertindak dalam membuat komposisi yang pas antara kayu satu dengan kayu lainnya, hingga tercipta suatu warna yang diinginkannya.

Cahyo adalah salah satu contoh pembatik yang mengutamakan kualitas, mengejar kesempurnaan hingga semaksimal mungkin. "Saya pernah ditawari untuk menitipkan batik buatan saya (Cahyo menyebutkan outlet besar produk-produk budaya di sebuah pusat perbelanjaan terkemuka di Jakarta, RED), tapi saya tolak. Karena, saya ini dasarnya pembatik," katanya.

Cahyo mengejar kepuasan batin dengan menghasilkan batik yang berkualitas tinggi. Selembar kain batik karyanya yang berukuran 2,5 m dari bahan katun bisa dihargai hingga Rp 3 juta. Sedangkan batik dari bahan sutera nilainya bisa mencapai Rp 15 juta.
Cahyo tidak memungkiri, ia tetap membutuhkan keuntungan dalam waktu cepat untuk memberi nafkah bagi 50-an pembatik yang menjadi karyawannya, sekaligus untuk biaya operasional pembuatan batiknya. Oleh karena itu, Cahyo juga memproduksi batik sebagai second line dengan merek Norma, yang lebih cepat pengerjaannya.

"Batik yang ini harganya lebih terjangkau, menggunakan bahan pewarna kimia. Tidak semuanya batik cap, ada juga yang tulis," paparnya. Batik tulis yang harganya lebih terjangkau ini umumnya menggunakan katun.

Banyak hal yang bisa menghambat pengerjaan sehelai batik, dan mengharuskan pembatik mengulangi pembuatannya dari awal. Misalnya, pelukisan dengan lilin yang blobor akibat cairan lilin yang tidak pas kekentalannya. Atau, kegagalan saat proses pewarnaan. Kalau sudah begini, pembatik tentu mengalami kerugian seperti hilangnya lembaran kain berbahan sutera yang nilainya mencapai jutaan.

"Itu sering terjadi, dan mau tidak mau kita harus menerimanya. Anda harus membayar kegagalan itu dengan menikmati seluruh prosesnya. Enjoy the process, enjoy the moment. Kita tidak akan menjadi pembatik yang andal jika tidak melalui proses kegagalan itu," tutur desainer Edward Hutabarat, dalam kesempatan yang sama.

Di luar urusan teknis, masih ada kendala sosial yang menghambat proses pembuatan batik. Banyak pembatiknya yang menikah, mempunyai anak, dan memutuskan berhenti bekerja. "Padahal regenerasi kan harus terus berlangsung. Akhirnya saya harus mencari pembatik lagi, entah dari keluarga atau teman-temannya," kata Cahyo.

Motif Batik

Setiap motif pada batik tradisional klasik selalu memiliki filosofi tersendiri. Pada , khususnya di Jawa Tengah, terutama Solo dan Yogyakarta, setiap gambar memiliki makna. Ini berhubungan dengan arti atau makna filosofis dalam kebudayaan Hindu-Jawa. Pada motif tertentu ada yang dianggap sakral dan hanya dapat dipakai pada kesempatan atau peristiwa tertentu. Menariknya, jika menengok fungsi kain batik di lingkungan keraton, batik ternyata hanya digunakan sebagai kain bawahan, artinya bukan untuk gaun atau kemeja. Dan setiap motif pun mempunyai peruntukannya masing-masing. Seperti Sida Mukti, yang secara harfiah berarti “menjadi berkecukupan, makmur”. Motif ini hanya boleh digunakan oleh kalangan keluarga keraton.Berikut motif- tersebut beerta filosofinya dapat di simak pada blog ini. Babon Angrem

 
Motif: Babon Angrem
Babon Angrem terdiri dari kata “babon” (induk ayam) dan “angrem” (mengerami telur), sehingga motif ini melambangkan induk ayam yang sedang mengerami telurnya. Maknanya adalah manusia hendaknya bersabar, seperti sabarnya seekor induk ayam yang sedang mengerami telurnya hingga menetas.Motif Truntum yang diciptakan oleh Kanjeng Ratu Kencana (Permaisuri Sunan Paku Buwana III) bermakna cinta yang tumbuh kembali. Beliau menciptakan motif ini sebagai symbol cinta yang tulus tanpa syarat, abadi, dan semakin lama semakin terasa subur berkembang (tumaruntum). Karena maknanya, kain bermotif truntum biasa dipakai oleh orang tua pengantin pada hari penikahan. Harapannya adalah agar cinta kasih yang tumaruntum ini akan menghinggapi kedua mempelai. Kadang dimaknai pula bahwa orang tua berkewajiban untuk “menuntun” kedua mempelai untuk memasuki kehidupan baru. \

Sida Asih (dibaca Sido Asih)Makna dari motif Sida Asih (dibaca Sido Asih) adalah harapan agar manusia mengembangkan rasa saling menyayangi dan mengasihi antar sesame.

The meaning of the Sida Asih (pronounced “Sido Asih” motif is the hope that humans will develop feelings of mutual love and compassion.

Motif Semen dimaknai sebagai penggambaran dari “kehidupan yang semi” (kehidupan yang berkembang atau makmur). Terdapat beberapa jenis ornamen pokok pada motif-motif semen. Yang pertama adalah ornamen yang berhubungan dengan daratan, seperti tumbuh-tumbuhan atau binatang berkaki empat. Kedua adalah ornament yang berhubungan dengan udara, seperti garuda, burung dan mega mendung. Sedangkan yang ketiga adalah ornament yang berhubungan dengan laut atau air, seperti ular, ikan dan katak. Jenis ornament tersebut kemungkinan besar ada hubungannya dengan paham Triloka atau Tribawana. Paham tersebut adalah ajaran tentang adanya tiga dunia; dunia tengah tempat manusia hidup, dunia atas tempat para dewa dan para suci, serta dunia bawah tempat orang yang jalan hidupnya tidak benar/dipenuhi angkara murka.
 
Semen Rama (dibaca Semen Romo)
Selain makna tersebut motif Semen Rama (dibaca Semen Romo) sendiri seringkali dihubungkan dengan cerita Ramayana yang sarat dengan ajaran Hastha Brata atau ajaran keutamaanmelalui delapan jalan.Ajaran ini adalah wejangan keutamaan dari Ramawijaya kepada Wibisana ketika dinobatkan menjadi raja Alengka. Jadi “Semen Romo” mengandung ajaran sifat-sifat utama yang seharusnya dimiliki oleh seorang raja atau pemimpin rakyat.
 
Motif Sekar Jagad
Motif Sekar Jagad mengandung makna kecantikan dan keindahan sehingga orang lain yang melihat akan terpesona. Ada pula yang beranggapan bahwa motif Sekar Jagad sebenarnya berasal dari kata “kar jagad” (Kar=peta; Jagad=dunia), sehingga motif ini juga melambangkan keragaman diseluruh dunia.Motif Kawung
Motif Kawung berpola bulatan mirip buah Kawung (sejenis kelapa atau kadang juga dianggap sebagai buah kolang-kaling) yang ditata rapi secara geometris. Kadang, motif ini juga diinterpretasikan sebagai gambar bunga lotus (teratai) dengan empat lembar daun bunga yang merekah. Lotus adalah bunga yang melambangkan umur panjang dan kesucian.
 
Motif: Kawung
Biasanya motif-motif Kawung diberi nama berdasarkan besar-kecilnya bentuk bulat-lonjong yang terdapat dalam suatu motif tertentu. Misalnya : Kawung Picis adalah motif kawung yang tersusun oleh bentuk bulatan yang kecil. Picis adalah mata uang senilai sepuluh senyang bentuknya kecil. Sedangkan Kawung Bribil adalah motif-motif kawung yang tersusun oleh bentuk yang lebih besar daripada kawung Picis. Hal ini sesuai dengan nama bribil, mata uang yang bentuknya lebih besar daripada picis dan bernilai setengah sen. Sedangkan kawung yang bentuknya bulat-lonjong lebih besar daripada Kawung Bribil disebut Kawung Sen.
 
Motif Pringgondani: 
Pringgondani adalah nama kesatriyan tempat tinggal Gatotkaca putera Werkudara. Motif ini biasanya ditampilkan dalam warna-warna gelap seperti biru indigo (biru nila) dan soga-coklat, serta penuh sulur-suluran kecil yang diselingi dengan naga.Motif: Tambal
Tambal bermakna menambal atau memperbaiki hal-hal yang rusak. Dalam perjalanan hidupnya, manusia harus memperbaiki diri menuju kehidupan yang lebih baik, lahir maupun batin. Dahulu, kain batik bermotif tambal dipercaya bias membantu kesembuhan orang yang sakit. Caranya adalah dengan menyelimuti orang sakit tersebut dengan kain motif tambal. Kepercayaan ini muncul karena orang yang sakit dianggap ada sesuatu “yang kurang”, sehingga untuk mengobatinya perlu “ditambal”. Tambal means “to patch” or to restore whatever has been destroyed. In the journey of life, human must improve themselves, both physically an spiritually. Formerly, it is said that had the tambal motif could heal a sick person who was wrapped in it. This belief arose because sick people were considered to be “lacking something”, so they needed to be “patched up” in order to be healed.

Komplek Makam Sultan Agung

Raja Mataram yang pertama dimakamkan di Imogiri yaitu Sultan Agung Hanyokrokusumo. Beliau yang memutuskan bahwa Imogiri menjadi makamnya kelak setelah  wafat. Hingga saat ini Raja Kasultanan Yogyakarta dan Surakarta yang wafat dimakamkan di sini. Musim liburan banyak wisatawan lokal berkunjung ke Makam Imogiri selain berziarah sambil menikmati pemandangan yang indah pegunungan selatan Yogyakarta. Pada bulan Soro menurut kalender jawa dilaksanakan upacara pembersihan “nguras” Padasan Kong Enceh.

Makam Imogiri merupakan komplek makam bagi raja-raja Mataram dan keluarganya. Kompleks ini berada di Girirejo Imogiri. Makam ini didirikan oleh Sultan Agung antara tahun 1632 – 1640M merupakan bangunan milik keraton kasultanan.
Komplek Makam Imogiri ini terdapat berbagai bangunan dan benda-benda keramat hingga saat ini masih terawat. Kontruksi bangunan aslinya terbuat dari batubata. Bangunan – bangunan yang ada di komplek makam lmogiri adalah :Masjid, Masjid ini terdapat di dalam komplek makam , merupakan masjid tradisional yang di bangun kira-kira pada masa Sultan Agung. Secara umum bangunannya masih asli hanya pada bagian serambinya saja yang mengalami perubahan yaitu pada bagian lantainya. Masjidnya beratap sirap , tetapi kini bagian atasnya dilapisi seng. sehingga atap, sirap hanya bisa dilihat dart dalam masjid saja. Unsur kekunoan lain pada masjid ini adalah pawestren dan kolam di halaman depan. Pada serambi masjid terdapat tubuh (Bedeng), besar dengan diameter 99 cm, panjang 146 cm. Menurut juru kunci makam tabuh ini di buat semasa dengan masjid. Unsur asli yang lain adalah saka guru dari kayu jati yang di sangga umpak persegi dari batu kali. Mihrap berupa relung pada dinding barat, dan mimbar berhias ukir-ukiran diantaranya ada yang manyerupai kala.Lihat Skema Bangunan Komplek makam Raja-raja di Imogiri:
 
Skema/bagan Bangunan Komplek Makam Raja-raja mataram di Imogiri

 
Wisatawan Berpose di depan Regol/gerbang utama

Proses Persiapan Pembuatan Batik Tulis

Tahap awal adalah dengan mempersiapkan medianya yaitu kain mori dengan melalui beberapa langkah yaitu:
  • Nganji
Pengerjaan di mulai dengan mencuci kain mori dengan air sehingga kanji aslinya hilang sama sekali untuk kemudian di kanji lagi. Pelapisan kain mori dengan ketebalan tertentu karena jika terlalu tebal, “malam” akan kurang  baik merekatnya pada kain sedangkan jika terlalu tipis, “malam” akan mlobor yang akibatnya kelak sukar di hilangkan. Kain Mori dari kualitas yang tertinggi (primisima) tidak perlu di kanji, karena ketebalan kanjinya telah memenuhi syarat
  • Ngemplong
Biasanya hanya mori halus yg melalui proses ini sebelum di batik tulis. Mori biru untuk batik cap pada umumnya langsung di kerjakan tanpa mengalami pengerjaan persiapan. Tujuan dari proses ini adalah, agar mori menjadi licin dan lemas, sehingga lebih mudah di batik tulis dan hasilnya jadi lebih baik. Caranya yaitu mori di pukul pukul di atas sebilah kayu dengan pemukul dari kayu pula.

Perawatan Batik Tulis

Ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan agar busana atau kain batik Anda tetap indah, di antaranya adalah sebagai berikut:
  1. Mencuci kain batik dengan menggunakan shampo rambut. Sebelumnya, larutkan dulu shampo hingga tak ada lagi bagian yang mengental. Setelah itu baru kain batik dicelupkan. Anda juga bisa menggunakan sabun pencuci khusus untuk kain batik yang dijual di pasaran.
  2. Pada saat mencuci batik jangan digosok dan jangan gunakan deterjen. Jika batik Anda tidak terlalu kotor maka Anda bisa mencucinya dengan air hangat. Tapi jika batik Anda terkena noda maka Anda bisa mencucinya cukup dengan sabun mandi saja. Akan tetapi jika nodanya masih membandel maka Anda bisa menghilangkannya dengan kulit jeruk pada bagian yang kotor saja. Janganlah mencuci kain batik dengan menggunakan mesin cuci.
  3. Setelah kotoran hilang Anda harus menjemurnya di tempat yang teduh tetapi Anda tidak perlu memerasnya, biarkan saja kain tersebut mengering secara alami. Pada saat menjemur sebaiknya Anda tarik bagian tepi kain agar serat kain yang terlipat kembali seperti sediakala.
  4. Hindari penyetrikaan secara langsung, jika terlalu kusut Anda bisa semprotkan air di atas kain batik Anda lalu lapisi batik Anda dengan kain lainnya. Hal ini untuk menghindari kain batik Anda terkena panas langsung dari setrikaan.
  5. Bila Anda ingin memberi pewangi dan pelembut kain pada batik tulis, jangan disemprotkan langsung pada kainnya. Sebelumnya, tutupi dulu kain dengan koran, lalu semprotkan cairan pewangi dan pelembut kain. Sebaiknya Anda tidak menyemprotkan parfum atau minyak wangi langsung ke kain atau pakaian berbahan batik sutera berpewarna alami.
  6. Sesudah disetrika sebaiknya Anda simpan batik Anda dalam plastik agar tidak dimakan ngengat. Sebaiknya Anda jangan memberi kapur barus karena zat padat ini terlalu keras sehingga bisa merusak kain batik Anda. Ada baiknya Anda beri merica atau lada yang dibungkus dengan tisu lalu masukkan dalam lemari pakaian Anda untuk mengusir ngengat. Atau Anda bisa menggunakan akar wangi yang sebelumnya Anda celup ke dalam air panas kemudian dijemur, lalu dicelup sekali lagi ke dalam air panas dan dijemur. Setelah akar wangi tersebut kering Anda baru bisa menggunakannya.

Econid


Program
Batik Tulis Giriloyo melayani Pelatihan, kursus, dan private batik. Call 0857 6480 8887

Pewarnaan Kain Batik dengan Indigo

by: Batik Tulis Giriloyo
Indigo atau yang lazim disebut ”Tom” ( indigofera ) bisa dimanfaatkan daunnya sebagai bahan pewarnaan pada textil dan serat Alam-bukan textil  Pewarnaan dengan jenis tanaman  Indigofera ini telah dilakukan oleh nenek moyang kita sejak beratus-ratus tahun silam. Untuk dapat memperoleh zat warna alam dari hasil fermentasi daun Indigofera ini harus melalui proses yang sangat  panjang dan diperlukan waktu yang cukup lama.Indigofera (Tom) adalah termasuk salah satu dari sekian banyak jenis pewarna yang ramah lingkungan. Gugus zat warna dipisahkan dari daun Tom dengan cara fermentasi, kemudian diendapkan sehingga akan menghasilkan suatu pasta Indigo, pasta terserbutlah yang kemudian dapat dipergunakan sebagai pewarna textil.
CARA MEMBUAT PASTA INDIGO
1. Siapkan daun Tom basah dan masukan ke dalam bejana yang diisi air hingga penuh (melebihi daunnya) dan di rendam selama kurang lebih 2 malam.
2. Saring larutan, pindahkan ke bejana lain.
3. Masukkan larutan bubuk kapur, kebur ( airasi ) sampai busa menjadi hilang dan larutan berwarna biru tua.
4. Diamkan larutan satu malam sampai terpisah antara larutan dan endapan.
Buang larutan yang bening, saring endapannya, diamkan 2 – 3 malam maka diperoleh pasta indigo.
Aman bagi kesehatan kulit

CARA PEWARNAAN
1.    Timbang pasta indigo, masukkan kedalam bejana yang berisi 5 liter air, kemudian diaduk sampai rata. 2.    Tambahkan kapur dan gula aren perbandingan 1 : 1 ( gula aren direbus dahulu sebelum dicampurkan ) kedalam larutan indigo.
3.    Setelah 10 jam ,larutan akan berwarna hijau ,siap digunakan.
4.    Rendam kain selama 15 menit , angkat,cuci bersih dan tiriskan ,akan nampak kain berwarna hijau lama kelamaan akan berwarna biru karena teroksidasi oleh udara
5.    Perendaman dapat dilakukan berulang ulang untuk mencapai warna biru yang dikehendaki.6.    Cuci bersih dan netralkan dengan asam cuka.

PROSES EKSTRAKSI ZAT WARNA ALAM dan PEMBUATAN LARUTAN FIKSASI

Yang perlu dilakukan sebelum proses ekstaksi  adalah : Potong kecil-kecil bagian tanaman yang hendak diekstrak dan sesuaikan dengan tempat pengekstraksiannya...Perbandingan bahan ekstrak dan air 1.10. Contoh : 1000 gram bahan ekstrak (daun, kulit kayu, buah dan sebagainya) : 10 liter air
Cara Kerja
1. Masukkan bahan yang hendak diekstrak ke dalam panci yang telah terisi air.
2. Rebus bahan hingga volume air menjadi setengahnya (5,5liter).
Jika menghendaki larutan zat warna jadi lebih kental volumesi saperebusan bias diperkecil misalnya menjadi sepertiganya.. Sebagai indikasi bahwa pigmen warna yang ada dalam tumbuhan telah keluar ditunjukkan dengan air setelah perebusan menjadi berwarna.. Jika larutan tetap bening berarti tanaman tersebut hamper dipastikan tidak mengandung pigmen warna.
3. Saring dengan kasa penyaring larutan hasil proses ekstraksi tersebut untuk memisahkan dengan sisa bahan yang diesktrak (residu). Larutan ekstrak hasil penyaringan ini disebut larutan zatwarna alam. Setelah dingin larutan siap digunakan
Pembuatan Larutan Fiksasi Textil yang telah dicelup dengan zat warna alam perlu dikuatkan warnanya agar tetap melekat pada textile tersebut (tidak luntur) . Proses yang perlu dilakukan agar warna tetap bertahan pada textile dan kain memiliki ketahanan luntur warna yang baik adalah proses Fiksasi (fixer), yaitu suatu proses penguncian warna setelah bahan dicelup dengan Zat Warna Alam. Jenis-jenis bahan fixer yang biasa digunakan ada 3 macam, yaitu: Tawas, Kapur serta Tunjung, dan untuk bisa mendapatkan larutan fixer tersebut perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Larutan fixer tunjung:Larutkan 50 gram tunjung dalam tiap liter air yang digunakan. Biarkan mengendap dan ambil larutan beningnya.
2. Larutan Fixer Tawas: Larutkan 50 gram tawas dalam tiap liter air yang digunakan.Biarkan mengendap dan ambil larutan beningnya.
3. Larutan fixer Kapur tohor : Larutkan 50 gram kapur tohor dalam tiap liter air yang digunakan. Biarkan mengendap dan ambil larutan beningnya.Nah... silahkan mencoba..

Mari Belajar Batik Tulis [KURSUS]

KURSUS/PRIVAT BATIK TULIS
Selama sehari, biasanya dibagi dalam dua sesi, anda akan belajar seluruh proses pembuatan batik yang umumnya terdiri dari pembuatan motif, pewarnaan kain, proses ngorot malam dan penjemuran.
Proses pembuatan motif dimulai ketika seluruh bahan, terutama kain mori, telah siap. Pembuatan motif ini dilakukan dengan bahan utama lilin atau malam yang digunakan sebagai zat perintang warna. Bila ingin membuat batik tulis, maka pembuatan motif digunakan dengan alat bantu canting sementara batik cap menggunakan cap batik yang telah didesain sesuai motif yang diinginkan. tetapi untuk jenis batik ini (cap) pada Batik Tulis Giriloyo tidak melayani kursus batik jenis ini.
Biasanya, anda bebas memilih motif yang hendak dibuat. Proses dilanjutkan dengan mewarnai kain. Caranya, kain yang telah dimotif dicelupkan dalam ember yang berisi zat warna. Sepertinya proses ini sederhana, namun sebenarnya cukup sulit, apalagi bila menginginkan batik lebih dari dua warna. Banyak pembatik masih menggunakan pewarna alami yang terbuat dari bahan alam tertentu, namun banyak pula yang menggunakan pewarna sintetik.
Usai mewarnai kain hingga merata, proses pembuatan batik dilanjutkan dengan nglorot malam, atau melarutkan lilin yang melekat di kain. Mulanya, disiapkan dulu air mendidih yang dicampur dengan abu soda dan akhirnya kain dicelupkan hingga seluruh lilin larut dalam air. Bila lilin belum juga larut, maka harus dibersihkan dahulu pasca pelorotan.
Tahap akhirnya adalah pencucian. Bila menggunakan pewarna alami, maka pencuciannya tidak bisa menggunakan deterjen sebab akan merusak warna. Setelah dicuci, kain dijemur dengan cara diangin-anginkan agar warna tak pudar. Setelah dijemur inilah anda bisa melihat perbedaan batik yang diwarnai dengan pewarna alami, biasanya warnanya akan lebih kusam.
Biaya yang dikeluarkan bervariasi sesuai durasi kursus yang diinginkan, berkisar antara Rp 250.000,00 hingga Rp 1.500.000.
Diajarkan step by step membatik, mulai dari menggambar pola, dilanjutkan dengan proses melilin dengan menggunakan canting, lalu dilanjutkan dengan mencelupnya untuk memberi warna pada kain, merebus kain hingga lilinnya hilang (melorot). Selanjutnya, kain bisa diberi warna dengan menggunakan kuas dan, terakhir, dengan pewarna kimia.

Kursus Privat Rp 600.000,- (berlaku untuk 2 orang).
Biaya Kursus Kolektif /@ Rp 200.000,- (minimum 5 orang).

TAHAPAN MEMBUAT BATIK TULIS

 

Pertama yang harus dilakuan adalah menyiapkan segala peralatan dan bahan membatik, baru kemudian dimulalilah proses pembatikan, di antaranya adalah:

Membatik dengan canting Nglowong, yakni menggambari kain dengan lilin, baik dengan menggunakan canting tangan maupun dengan menggunakan cap (stample). Sifat lilin yang digunakan dalam proses ini harus cukup kuat dan renyah. Jenis malam ini digunakan agar supaya lilin mudah dilepaskan dengan cara dikerok karena bekas gambar dari lilin ini nantinya akan diberi warna coklat. Nglowong ada dua tingkatan yaitu: ngéngréng dan nerusi (menggambar pada pemukaan kain lainnya).Nembok, proses hampir sama dengan nglowong tetapi lilin yang digunakan lebih kuat karena lilin ini dimaksudkan untuk menahan zat warna biru (indigo) dan coklat (soga) agar tidak menembus kain. Bedanya dengan nglowong adalah nembok dimaksudkan untuk menahan warna, sedangkan nglowong dimaksudkan untuk menggambar dan menjadi tempat warna coklat setelah dikerok.Wedelan, proses untuk memberi warna biru dengan menggunakan indigo (napthol) yang disesuaikan dengan tingkat warna yang dikehendaki.Ngerok, untuk menghilangkan lilin klowongan untuk tempat warna coklat. Ngerok dikerjakan dengan potongan kaleng dengan lebar kurang lebih 3 cm dan panjang kurang lebih 30 cm yang ditajamkan sebelah, lalu dilipat menjadi 2. Alat ini kemudian disebut dengan cawuk.
Mbironi, kain yang telah selesai dikerok bagian-bagian yang diinginkan tetap berwarna biru dan putih (cecekan/titik-titik) perlu ditutup dengan lilin dengan menggunakan canting tangan, maksudnya agar bagian tersebut tidak kemasukkan warna lain bila di soga.
Nyoga, kain yang telah selesai dibironi lalu diberi warna coklat (disoga) dengan ekstrak warna yang terbuat dari kulit kayu soga, tingi, tegeran, dll. Kain tersebut dicelup dalam bak pewarna hingga basah seluruhnya kemudian dianginkan sampai kering. Proses ini diulang-ulang sampai mendapatkan warna coklat yang diinginkan. Untuk warna yang tua sekali, proses ini dapat memakan waktu 1-2 minggu. Bila menggunakan zat pewarna kimia, proses ini dapat selesai 1 hari.Mbabar/nglorot, untuk membersihkan seluruh lilin yang masih ada di kain dengan cara memasak dalam air mendidih yang ditambah dengan air tapioka encer agar lilin tidak melekat kembali ke kain.

Produk-produk ringan

 
Motif Bunga: Batik Cap

Selain memproduksi batik-batik dengan motif tradisional (pakem) dengan pewarnaan khas Batik Tulis Giriloyo, baik dengan pewarnaan alam maupun pewarnaan sintetis Batik Tulis Giriloyo juga memproduksi batik-batik motif ringan-kontemporer yang harganya terpaut jauh bila dibanding dengan otif-motif tradisional yang notabenenya sebagai motif-motif produk unggulan Batik Tulis Giriloyo. Hal ini kami lakukan sebagai penganekaragaman produk dan memenuhi tuntutan pasar. di bawah ini dapat dilihat beberapa motif ringan (non tradisional) dan sebagian besar terdiri dari motif-motif bunga.
 
Batik Tulis Motif ringan: Bahan Mori Prima Messres
 
Batik Cap: Bahan Mori Prima Messres
 
Batik Tulis Warna Alam: Bahan Mori Prima Messres
 
Batik Tulis Warna Alam: Bahan Mori Prima Messres
 
Batik Cap: Bahan Mori Prima Messres
 
Batik Cap Motif Grompol: Bahan Mori Prima Messres
 
Batik Cap Warna Sintetis: Bahan Mori Prima Messres
 
Batik Cap Motif Grompol: Bahan Mori Prima Messres
 
Batik Cap: Bahan Mori Prima Messres

Upaya Pelestarian Batik Tulis

Batik Indonesia sangat dikagumi oleh bangsa-bangsa di dunia. Mereka mengathui bagaimana rumitnya membuat batik, bagaimana banyaknya motif-motif batik yang indah dan mempunyai ciri khas Indonesia, indahnya dan hidupnya motif batik akan lebih terlihat setelah dipadukan dengan kombinasi pewarnaan dan kualitas lilin putih. Banyak orang luar negeri yang berlajar membatik, meneliti tentang bahan dasar batik  di Giriloyo karena mengagumi seni batik dan benar-benar mempelajarinya. Dunia teknologi informasi dengan jaringan internetnya akan membuat semua informasi lebih canggih dan lebih cepat. Pengaruhnya adalah ilmu pengetahuan akan mengambil tempat untuk disebarkan secara luas. Terutama di kota-kota besar.
Di Indonesia masih banyak desa-desa yang ketinggalan dalam hal teknologi informasi, karena kurangnya jaringan komunikasi. Cara hidupnya masih sederhana. Umunya mereka mempunyai peradaban dan kebudayaan sendiri-sendiri. Ada di antara desa-desa tersebut yang kebudayaan hidupnya mencari nafkah dengan membatik.. Batik adalah senikriya tradisional, yang mampu bertahan dan semoga akan terus bertahan, dengan perjalanan waktu akan terus ada pembaharuannya, sehingga menyebabkan jumlah motif batik akan bertambah. Eksistensi Batik tak akan lapuk terkena panaspun tak akan lekang terlindas zaman. Agar batik tidak punah, maka diperkenalkanlah batik tulis ini kepada siswa-siswi di sekolah. Ada pepatah “Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta” sehingga perlu pengenalan seni kriya batik ini sedini mungkin. Masukkan kembali keterampilan batik dalam pelajaran di sekolah terutama di sentra-sentra batik.
Produk batik bisa kita ibaratkan sebagai lagu yang dinyanyikan oleh artis dan diedarkan dalam bentuk kaset dan CD. Dari lagu tersebut jelas siapa penyanyinya, siapa penciptanya,  siapa saja nama anggota bandnya dan siapa label/produsernya. Dan semua mendapat nama dan keuntungan (royalty) masing-masing. Bagaimana dengan batik? tidak jelas siapa yang mencipta motif, siapa yang mencantingkan dan mengecapkan lilin, dan siapa yang memproses pencelupannya sehingga menjadi pembatik bukan merupakan pekerjaan yang menjanjikan dan mereka hanya berstatus sebagai buruh. Yang dikenal hanya motif, brand, dari kota mana batik tersebut, desainer, kolektor dan pengusahanya.
Menyedihkan bukan. Kita sendiri yang melupakan para pencipta identitas bangsa. Akhirnya semakin berkurang para pembatik karena pembatik tidak pernah dikenal, tidak pula disebut seniman mereka hanya buruh  yang tidak layak dikenal dan meraup untung serta meningkatnya kesejahteraan mereka dengan trend batik yang berkembang saat ini. Hal inilah yang menjadikan runtuhnya generasi pembatik di negeri kita..
Meski saat ini trend batik juga melanda anak muda dan mode busana batik sudah tidak ketinggalan zaman, namun batik masih selalu diidentikkan dengan orang tua. Coba perhatikan poster dan gambar pembatik hampir pasti yang muncul adalah gambar para perempuan tua yang sedang membatik.
Keadaan ini ditengarai dapat menurunkan kebanggaan seseorang untuk mau belajar tentang proses pembatikan. Oleh karena itu untuk melestarikan batik, kita perlu lebih menghargai karya cipta seseorang. Mari kita “uwongke” para pembatik kita.. Alangkah indah, bahagia dan sejahteranya jika pembatik bisa dihargai setara sebagai pencipta lagu, penyanyi, desainer atau maestrolukis. Karena selama ini upaya-upaya melestarikan dan rasa memiliki batik seringkali kita melupakan para kreatornya. Melestarikan batik tidak hanya berarti mengkoleksi, menggunakan dan mempromosikan produk batik tetapi juga harus lebih menghargai dan meregenerasi para pembatiknya. Gitu.......

Sejarah dan Perkembangan Batik

 

A. Batik Tulis MOTIF KENANGA

Batik dikenal sejak abad XVII, yang ditulis dan dilukis pada daun lontar. Motif yang berkembang saat itu adalah motif-motif binatang dan tanaman. Dan lambat laun berkembang motif-motif yang menyerupai awan, relief-relief, candi, wayang beber dan lain sebagainya. Yang pada akhirnya melalui penggabungan corak lukisan dan seni dekorasi pakaian, kemudian muncullah seni batik tulis seperti sekarang ini. Batik, ada awalnya tumbuh dan berkembang di lingkungan keraton, nuansa kehidupan tradisional yang kental dengan unsur-unsur kebudayaan Hindu-Jawa hingga memberikan kesempatan kepada putri keraton mendalami salah satu dasar pendidikan seni kriya batik, termasuk menyusun motif hingga pembatikannya. Oleh karenanya, banyak motif-motif batik tradisional tersebut yang dikaitkan dengan peristiwa yang terjadi dilingkungan keraton dan hanya dipakai pada saat-saat tertentu. Batik, pada saat itu tidak hanya dipandang sebagai hasil karya seni belaka, namun dipandang sebagai hasil cipta, rasa dan karsa. Karena memang dalam proses pembuatan batik waktu itu benar-benar melibatkan olah batin yang mendalam. Sehingga karya batik waktu itu benar-benar memancarkan aura kewibawaan. Motif batik yang dipakai sebagai busana harian bermacam-macam coraknya. Pada saat upacara perkawinan motif yang dipakai adalah : Grompol, Gringsing Ceplok Mangkoro, Sidoasih, Sidomulyo, Sidomukti, Semen Rama, dan Nitik Cakar Ayam. Konon motif-motif tersebut melambangkan kesuburan dalam mengarungi hidup baru. Selain motif-motif di atas, masih banyak motif-motif lain yang diciptakan untuk busana upacara adat Jawa yang lain. Para putri keraton membuat batik hanya mengengreng saja, kemudian diteruskan oleh masyarakat di luar keraton. Kesibukan membatik yang diteruskan di luar keraton, menyebabkan motif-motif batik tersebar kepada para pengusaha batik, sehingga motifnya berkembang sesuai penyebarannya. Penduduk di luar keraton tergugah dan kreatif menyediakan apa yang diperlukan untuk proses penyelesaian batik keraton. Maka timbulah pengusaha dan saudagar batik, mula-mula di dekat keraton dengan produksi batik berwarna putih cokelat (bledak) dan biru tua (kelengan-wedelan). Kemudian produsen batik berkembang di mana-mana khususnya di Yogyakarta dan Surakarta. Pada tahun 1965-1980 produksi batik berkembang dipulau Jawa. Banyak pengusaha batik, baik yang memproduksi batik warna putih cokelat biru tua maupun perkembangan baru, yaitu batik warna-warni.
Pada tahun 1981 perkembangan batik tulis mulai menyusut, karena orang mencari praktisnya berpakaian, dan terlebih karena budaya terus berubah. Namun bila batik dijadikan identitas bangsa Indonesia, maka kebudayaan kriya batik perlu dipelihara. Pemeliharaannya dapat dilihat dari beberapa sudut, antara lain harus dilestarikannya pengetahuan tentang membatik dengan canting, pengetahuan tentang penggunaan cap tembaga, cara pembuatan canting dan cap tembaga, pengetahuan tentang proses pewarnaan, serta pengetahuan perwujudan budaya yang hidup dan berkembang.

B. Motif-Motif Batik Yogya
Kekayaan alam Yogyakarta sangat mempengaruhi terciptanya ragam hias dengan pola-pola yang mengagumkan. Sekalipun ragam hiasnya tercipta dari alat yang sederhana dan proses kerja yang terbatas, namun hasilnya merupakan karya seni yang amat tinggi nilainya. Jadi, kain batik-tulis bukanlah hanya sekedar kain, melainkan telah menjadi suatu bentuk seni yang diangkat dari hasil cipta, rasa dan karsa pembuatnya. Motif-motif ragam hias biasanya dipengaruhi dan erat kaitannya dengan faktor- faktor:
1)   Letakgeografis; 2)   Kepercayaandan adat istiadat; 3) Keadaan alam sekitarnya termasuk flora dan fauna; dan 4) Adanya kontak atau hubungan antar daerah penghasil batik; Serta 5)  Sifat dan tata penghidupan daerah yang bersangkutan.
Beberapa nama ragam hias atau motif batik Yogyakarta antara lain: Parang, Banji, tumbuh-tumbuhan menjalar, tumbuh-tumbuhan air, bunga, satwa, Sido Asih, Keong Renteng, Sido Mukti, Sido Luhur, Semen Mentul, Sapit Urang, Harjuna Manah, Semen Kuncoro, Sekar Asem, Lung Kangkung, SekarKeben, Sekar Polo, Grageh Waluh, Wahyu Tumurun, Naga Gini, Sekar Manggis,Truntum, Tambal, Grompol, Ratu Ratih, Semen Roma, Madau Broto, Semen Gedhang, Jalu Mampang dan lain sebagainya. Masing-masing motif tersebut memiliki nilai filosofis dan makna sendiri. Adapun makna filosofis dari batik-batik yang dibuat di Giriloyo antara lain:
 
Motif Sido Asih.    
a. Sido Asih mengandung makna sipemakai apabila hidup berumah tangga selalu penuh dengan kasih sayang; b. Sido Mukti mengandung makna apabila dipakai pengantin, hidupnya akan selalu dalam kecukupan dan kebahagiaan;
c.  Sido Mulyo mengandung makna sipemakai  hidupnya akan selalu mulia;
d.  Sido Luhur mengandung makna sipemakai akan menjadi orang berpangkat yang berbudi pekerti baik dan luhur;
e.  Truntum3 mengandung makna cinta yang bersemi;
 
Motif Grompolf.    
f. Grompol artinya kumpul atau bersatu, mengandung maknaagar segala sesuatu yang baik bisa terkumpul seperti rejeki, kebahagiaan, keturunan, hidup kekeluargaan yang rukun;
g. Tambal mengandung makna menambah segala sesuatu yang kurang. Apabila kain dengan motif tambal ini digunakan untuk menyelimuti orang yang sakit akan sebuh atau sehat kembali sebab menurut anggapan pada orang sakit itu pasti ada sesuatu yang kurang;
h. Ratu Ratih dan SemenRomamelambangkan kesetiaan seorang isteri;
i.  Madau Bronto  melambangkan asmara yang manis bagaikan madu;
j.  Semen Gendhang mengandung maknaharapan agar pengantin yang mengenakan kain tersebut lekas mendapatmomongan. 
Motif-motif tersebut dari dahulu hingga sekarang diwariskan secara turun-temurun, sehingga polanya tidak berubah, karena cara memola motif itu sendiri hanya dilakukan oleh orang-orang tertentu, dan tidak setiap pembatik dapat membuat motif sendiri.
Orang yang membatik tinggal melaksanakan pola yang telah ditentukan. Jadi, kerajinan batik tulis merupakan suatu pekerjaan yang sifatnya kolektif. Sebagai catatan, para pembatik di Giriloyo khususnya dan Yogyakarta umumnya, lazimnya dilakukan oleh kaum perempuan baik tua maupun muda. Keahlian membatik tersebut pada umumnya diwariskan  secara turun-temurun dari generasi ke generasi lainnya.

C.  Nilai Penting
Banyaknya motif batik  yang kita temukan, menunjukkan kekreatifan sang kreator nenek moyang bangsa Indonesia, mereka mampu menciptakan motif yang bukan saja hanya sekedar motif, akan tetapi dari sekian motif yang ada tentu ada makna dan filosofi yang mendasari terbentuknya motif tersebut.
Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama dan hal tersebut juga merupakan salah satu bentuk budaya adi luhung yang patut dilestarikan. Hasil olah imajinasi yang dituangkan dalam coretan lilin, dengan canting sebagai penanya, maka terwujudlah sebuah “batik” yang mempunyai nilai dan cita rasa seni yang tinggi, dengan pengerjaan  yang rumit  dan dalam waktu berminggu-minggu.  Selain proses pembuatannya yang rumit dan selalu disertai dengan serangkaian ritual khusus, batik juga mengandung filosofi tinggi yang terungkap dari motifnya. Hal ini terkait dengan sejarah penciptaan motif batik sendiri yang biasanya diciptakan oleh sinuwun, permaisuri atau putri-putri kraton yang semuanya mengandung falsafah hidup tersendiri bagi pemakainya.
Batik klasik mempunyai pola-pola dasar tertentu dengan berbagai macam variasi motif yang dapat diwujudkan dalam berbagai produk. Seperti kain jarit, selendang, baju dan lain sebagainya.

Resep Warna Merah Mengkudu dengan Naptol

Untuk mendapatkan warna merah mengkudu pada pencelupan kain/tekstil dan kain batik dengan menggunakan Naptol/ 2.5 meter dengan 3 liter air dan dilakukan 2 kali pencelupan. Adapun resep yang diperlukan adalah sebagai berikut: Naptol AS-BO : 9 gram
Kostik 4,5 gram  + sedikit TRONaptol-Kostik-TRO ilarutkan dengan + - 1/2 liter air panas..Pembangkit warnanya adalah dengan Garam Diazom (Garam Naptol):
Merah R-3 GL : 24 gramMerah B          : 3 gram..
Sebelum dilakukan pencelupan ke dalam larutan Naptol, maka kain direndam terlebih dhulu ke dalam larutan TRO.. baru kemudian kain dicelup  ke dalam larutan Naptol. Pada pencelupan ini kain belum berwarna seperti yang diharapkan, baru kemudian setelah atus, maka kain dicelup ke dalam larutan garam. Warna pun timbul seperti yang kita kehendaki. langkah selanjutnya adalah mencuci/kain dibilas dan ditiriskan, setelah atus kemudian lakukan pencelupan yang ke dua yang langkahnya sama seperti pencelupan yang pertama, kemudian proses selanjutnya adalah pelorotan (penghilangan lilin yang menempel pada kain) dengan cara direbus.. Jadilah kain batik yang cantik dan indah...selamat mencoba

Larutan TRO

Kunjungan Wisata SD BIAS Yogyakarta

Tekun dan Sangat Antusias Niat Belajar membatik
 
Belajar Batik Tulis
 
Siswa-siswi SD BIAS (SIBI) usai belajar membatik
 
Hasil Karya Batik sebelum diproses warna

SD Bias melakukan kunjungan wisata (belajar membatik) di Gazebo Batik Giriloyo.
SD Bias adalah Sekolah Islam berwawasan Internasional (SIBI). SD. BIAS menerapkan pendidikan di dalam kelas dan kegiatan di luar kelas (Lapangan) seperti kunjungan Kunjungan wisata batik, kerajinan kulit dan kerajinan-kerajinan yang lain. Kunjungan di Gazebo batik ini merupakan kunjungan yang kedua kalinya.. yang pertama dilakukan pada tahun lalu (2010).Kunjungan kali ini diikuti oleh kurang lebih dari 75 siswa yang terdiri dari kelas 3 dan 4. (Giwangan). Dan beberapa siswa SMP BIAS Jl. Kaliurang, Yogyakrta.Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin lqpangan yang dilaksanakan 4 x dalam satu tahun untuk melaksanakan kegiatan lapangan (kunjungan ke sentra-sentra kerajinan). Kunjungan di Gazebo Batik Giriloyo ini siswa-siswi melaksanakan kegiatan lapangan dalam bentuk praktek membatik. Siswa-siswi belajar membatik yang dipandu oleh pengrajin batik Giriloyo. Media yang digunakan adalah kain mori dengan ukuran 30 x 30 cm. Siswa-siwi menuangkan ide kreatifnya dalam media kain dan dibatik dengan cairan malam/lilin. Kegiatan ini memerlukan waktu sekitar 2 jam.


Gazebo, 21 April 2011

Kunjungan Wisata (Belajar Batik) TK IT. Arrohmah Kretek Bantul.

Kali ini yang berbondong-bondong ke Gazebo Batik Giriloyo adalah siswa-siswi dari TK IT Arrohmah Kretek Bantul. sebanyak 96 siswa-siswi TK Ar-Rohmah Kretek Bantul, Yogyakarta belajar batik tulis yang didampingi oleh para pengurus Paguyuban Batik Giriloyo. Kegiatan ini dilakukan untuk mengenalkan batik sebagai warisan budaya adiluhung kepada anak-anak sekaligus sebagai upaya pelestaian warisan budaya tersebut.
 
Gazebo Batik Giriloyo

Melepaskan lilitan lilin dari Kain Mori (Ngebyok)

Ngebyok/nglorot adalah pekerjaan yang gampang-gampang susah. Bagaimana tidak kalau kadang kita merasakan betapa susahnya memisahkan malam/lilin dari media kain (mori) kendati sudah digodog sekilan menit, bahkan sekian jam tapi ternyata tak lepas-lepas lilinnya dari mori. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, saya mempunyai pengalaman yang sederhana, tapi barangkali sangat berarti. Di antaranya adalah:

Untuk pengrajin batik yang kapasitas produksinya masih sangat sedikit, atau berkisar 20-30 potong/bulan. kain batik (Batikan) bisa dilorod dengan air 1 drum dengan ketinggian air + 60 Cm,, tapi untuk awalan, sebaiknya jangan dipenuhi terlebih dahulu. masukkan kira-kira setengahnya aja, atau lebih sedikit juga tidak masalah. Jika air sudah mendidih, tambahkan sedikit Soda Abu. lalu masukkan Batikan satu atau dua potong ke dalam drum berisi air mendidih, sambil diaduk dan diangkat-angkat, perhatikan, apakah lilin/malam sudah lepas dari kain (bersih), jika sudah kain batik tampak bersih dan indah maka bisa diambil dan dicuci. celupkan bebeapa kain Batikan berikutnya, begitu seterusnya.
 
Limbah Pekat/malam sisa hasill pelorotan/Ketika sampai pada kain Batikan yang kira-kira ke sepuluh kain, maka air drum tampak keruh dan sudah mulai susah lilin/malam lepas dari kain Batikan. Itu karena limbah malam sudah terlalu banyak bercampur dengan air. Dalam kondisi yang demikian, kita bisa tamabahkan air/penuhi drumnya, maka akan tampak gumpalan lilin dan mengambang dipermukaan, kemudian ambillah gumpalan-gumpalan lilin tersebut dengan saringan maka air kembali agak bersih dari sisa-sisa lilin.. kemudian tambahkan sedikit Soda Abu atau Kanji atau bisa juga dengan waterglass, jika air sudah mendidih kembali maka bisa kita lanjutkan proses pelorotan atau Ngebyok.Dan coba perhatikan atau bedakan rasanya jika kita melakukan proses Ngebyok/pelorotan ini dengan sekaligus memasukkan air penuh ke dalam drum untuk pelorotan sekian banyak kain Batikan sekaligus dengan memasukkan separuh drum dan baru kemudian ditambah setelah mendapatkan beberapa kain lorotan. Selamat Mencoba..

Harga di Bawah 200.000,-

Produk Batik yang diproses denganmenggunakan bahan alam, akan tampil menjadi busana yang luar biasa indah,fashionable, dan berkelas.
Seperti apakah batik dengan pewarnaalam? Batik Tulis Giriloyo memproduksi batik tulis berkwalitas dengan proses warna alam yang ramah lingkungan. Batik jenis ini  mempunyai karakter yang luwes, shoft dan exotic, harganyapun lumayan mahal yaitu berkisar Rp. 500.000 - 1.500.000,
Tapi jangan kawatir, Batik Tulis Giriloyo juga memproduksi batik tulis yang murah tapi bukan murahan. Seperti apakah batik tulis yang murah? Mari kita lihat  Produk Batik Tulis Giriloyo atau pilih Produk-produk ringan yang harganya juga sangat ringan.

Yang Bagus Tak Selamanya "Mahal"

 
Batik Tulis dengan Proses Warna Alam.
Menyimak judul di atas barangkali mustahil. Biasanya yang bagus-bagus itu mesti mahal harganya. Seperti batik produksi KUB Batik Sekar Kedhaton Giriloyo ini terkesan mahal karena produknya bagus. Warna alam adalah salah satu proses pewarnaan batik yang diterapkan di kub Batik Sekar Kedhaton. Hasil Produksi dengan proses warna alam ini rata-rata berkisar Rp. 500-1.500.000,-. sebuah nominal yang lumayan tinggi untuk kalangan menengah ke bawah seperti saya ini.Satu lembar kain ukuran 2.5 m ini bila ditukar beras bisa dapat 2.5 kwintal. bisa untuk mencukupi kebutuhan makan selama kurang lebih 3 bulan untuk sebuah keluarga kecil. Kalau dilihat dari harga atau nominal yang menempel pada label kain tersebut memang sangat tinggi/mahal. Namun, bila dilihat dari proses produksi dan bahan yang digunakan maka bisa dibilang murah. Inilah sebuah jawaban atas pertanyaan "kenapa batik tulis itu mahal?".Bayangkan saja, proses batik tulis memerlukan waktu kurang lebih satu bulan. Bila dibanding dengan buruh pabrik atau buruh-buruh yang lain, maka satu bulan mereka bisa menghasilkan minimal 750.000,-, sedangkan proses membatik dengan kategori batik halus rata-rata selesai 1 sampai 1.5 bulan. Bila dijual kainnya laku minimal 500-750 ribu, belum lagi ditambah dengan harga bahan dasarnya: Kain/mori, malam (lilin), minyak, kayu bakar, bahan pewarna dan lain-lain. Kalau demikian kenyataannya, masihkan Batik tulis pantas dibilang "MAHAL"?.Maka Jawabnya adalah TIDAK. Bahkan sebaliknya, batik tulis sangatlah murah bila dilihat dan diukur dari proses produksi dan bahan serta alat-alatnya.

Infro Pameran Kerajinan

Pameran adalah salah satu media Promosi bagi pelaku suaha: UMKM dan sejawatnya. Dan kesempatan seperti inilah yang biasanya diburu para pelaku usaha. Maka dalam Halaman ini sengaja saya lampirkan tentang Info Pameran dengan harapan dapat memberikan informasi sesuai yang diharapkan para pelaku usaha.Simak beberapa event yang bakal diselenggarakan di bulan-bulan mendatangDi antaranya adalah:

KRIDAYA 2011
Pameran Kerajinan Dalam Warisan Budaya

3-7 Agustus 2011
10:00-21:00 WIB
Mempromosikan aneka ragam keindahan dan keunggulan budaya bangsa dan membangun citra positif Kebudayaan Indonesia di mata dunia. Dalam rangka mendukung pengakuan dunia atas Batik sebagai karya Bangsa Indonesia yang ditetapkan oleh UNESCO.

--------------------------------------------------
TEMPAT
--------------------------------------------------
Cendrawasih Room 1/2,
Main Lobby,
Assembly Hall 1,2,3 & Plenary Hall,
Balai Sidang Jakarta Convention Center (JCC)
Jl. Jend. Gatot Subroto,
Jakarta 10270 Indonesia
Tel. 021-5726000
Fax. 021-5726523/28

--------------------------------------------------
PROFIL PESERTA PAMERAN
--------------------------------------------------
* Perajin / pengusaha produk-produk warisan budaya
* Seniman berbagai media
* Sanggar Seni dan Budaya Indonesia
* Kolektor benda seni
* Galeri
* Pengusaha Perhiasan / Aksesoris

--------------------------------------------------
PELAKSANA / ORGANIZER
--------------------------------------------------
PT. MEDIATAMA BINAKREASI
Gedung Graha Megah
Jl. Balai Pustaka Timur 39, Blok B-9, Rawamangun
Jakarta Timur 13220
Telp. 021-4896942
Fax. 021-4893056
e-mail : info@ptmediatama.com
CP : Liza Dwi W: liza@ptmediatama.com

-----------------------------------------------
INATEX 2011Indonesia International Textile
----------------------------------------------
Apparel Accessories ExhibitionPerforming valuable partnership in vigorous competition.28-29-30 April 2011 (Thursday - Saturday) ; 10.00 – 18.00.
Venue:Hall A1,2 Jakarta International Expo, Kemayoran, JakartaAdmission:
- 1st and 2nd day – buyer/trader/retailer/store-owner, professional, government institution, academic and consultant.
- 3rd day
- for general publicContact:
PT. PERAGA NUSANTARA JAYA SAKTIJl. P. Jayakarta 141, Blok B-9,Jakarta 10730, Indonesia
Tel : 62-21-6493717

-----------------------------------------------------------
Gelar Batik Nusantara 2011Gelar Batik Nusantara 2011
-----------------------------------------------------------
Pameran Batik & Aplikasinya
28 Sep - 2 Okt 201110:00-21:00 WIB

TEMPAT:
Cendrawasih Room 1/2,Main Lobby,Assembly Hall 1,2,3 & Plenary Hall,Balai Sidang Jakarta Convention Center (JCC)Jl. Jend. Gatot Subroto,Jakarta 10270 IndonesiaTel. 021-5726000Fax. 021-5726523 / 28PRODUK YANG DIPAMERKAN:
- Galeri batik kuno / antik
- Batik art, Printed batik, batik cap, dll
- Perhiasan dan asesorisnya
- Kerajinan & furniture batik

PROFIL PESERTA PAMERAN
- Para perajin & produsen batik
- Para pembina UKM (BUMN/BUMD)
- Asosiasi
- Dinas-dinas terkait
- Dekranas/Dekranasda
- Produsen kerajinan, furniture & interior batik
- Produsen garment, fashion & accessories
- Produsen perhiasan
- Komponen pendukung (freight forwarder, bank dan institusi kredit,
- BUMN, BUMD, Pemda, Dinas, BPEN, dll
--------------------------------------------------
KEGIATAN SELAMA PAMERAN-
Kontak bisnis
- Seminar & konferensi batik
- International women fashion show
- Daily fashion show- Penjualan langsung
- Demo pembuatan batik- Penghargaan batik
- Live musik

PENYELENGGARA:
Yayasan Batik IndonesiaJl. Taman Widya Chandra II, 4,Jakarta SelatanTel. 021-52907106.PELAKSANA / ORGANIZER: PT. Mediatama BinakreasiGedung Graha MegahJl. Balai Pustaka Timur 39, Blok B-9, RawamangunJakarta Timur 13220Telp. 021-4896942Fax. 021-4893056email : info@ptmediatama.comwww.ptmediatama.com

_____________________________________________________ 
CRAFINA 2011
Resources of Indonesian Craft
30 Nov - 4 Dec 2011
10:00-21:00 WIB

--------------------------------------------------
TEMPAT
--------------------------------------------------
Cendrawasih Room 1/2,
Main Lobby,
Assembly Hall 1,2,3 & Plenary Hall,
Balai Sidang Jakarta Convention Center (JCC)
Jl. Jend. Gatot Subroto,
Jakarta 10270 Indonesia
Tel. 021-5726000
Fax. 021-5726523 / 28

--------------------------------------------------
PRODUK YANG DIPAMERKAN
--------------------------------------------------
* Berbasis mineral antara lain :
- Keramik, gerabah, pottery (guci) stoneware, porcelain, precious
- stone, semi precious stone, jade, perak (silver), logam (metal),
- emas (gold), bronze (perunggu), iron (besi). pewter logam
- campuran), dll

* Berbasis serat / fiber antara lain :
- serat alam (natural fibre), kerajinan bambu (bamboo), grass,
- rattan (rotan) jute (rami), mendong, textile, dlll

* Berbasis kayu (wood) antara lain :
- Ukir-ukiran kayu, perabot rumah tangga, paper (kertas), dll

--------------------------------------------------
PROFIL PESERTA PAMERAN
--------------------------------------------------
- Produsen/perajin handicraft
- Pedagang handicraft (UKM)
- Pengumpul (colector)
- BUMN pembina UKM
- Dinas dan instansi pembina UKM

--------------------------------------------------
KEGIATAN SELAMA PAMERAN
--------------------------------------------------
- Display produk berdasarkan zoning (kelompok produk) berbasis bahan baku
- Penjualan retail
- Demo pembuatan produk

--------------------------------------------------
PENYELENGGARA
--------------------------------------------------
ASEPHI (Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia)
Jl. Wijaya I, 3A, Kebayoran Baru
Jakarta Selatan
Tel. (62-21) 7252032
Fax. (62-21) 7252062
email: asephipusat@gmail.com

--------------------------------------------------
PELAKSANA / ORGANIZER
--------------------------------------------------
PT. Mediatama Binakreasi
Gedung Graha Megah
Jl. Balai Pustaka Timur 39, Blok B-9, Rawamangun
Jakarta Timur 13220
Telp. 021-4896942
Fax. 021-4893056
email : info@ptmediatama.com
www.ptmediatama.com

CP:
Mr. Anugrah Taufik Akbar - uno@ptmediatama.com
Ms. Stellamaris Kiuk - ella@ptmediatama.com
Mr. Ken Aditya - ken@ptmediatama.com