PERAJIN BATIK GIRILOYO KELUHKAN MINYAK TANAH MAHAL

(Berita Daerah - Jawa) - Para perajin batik tulis di Giriloyo, Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mengeluhkan mahalnya harga minyak tanah setelah pencabutan subsidi.

"Di wilayah Giriloyo Imogiri harga minyak tanah nonsubsidi mencapai Rp8.000-Rp10.000/liter dan belum tentu ada. Rata-rata tiap hari seorang perajin memerlukan setengah liter minyak tanah sebagai bahan bakar kompor untuk memasak bahan baku lilin," ketua Ketua Paguyuban Perajin Batik tulis Giriloyo Nur Ahmadi.

Ia mengatakan saat ini di sentra kerajinan batik tulis Giriloyo tercatat 600 perajin. Jika tiap perajin membutuhkan setengah liter minyak tanah tiap hari berarti harus tersedia 300 liter minyak tanah per hari.
Padahal setelah subsidi dicabut, perajin Giriloyo makin kesulitan mendapatkan minyak tanah.

"Keluhan perajin ini sudah kami sampaikan kepada Disperindagkop Kabupaten Bantul dan meminta solusi apakah dengan memberikan pelatihan penggunaan energi alternatif untuk menunjang proses produksi misalnya biogas atau serbuk kayu gergajian," katanya.

Menurut dia, sekarang sebagian perajin mulai beralih menggunakan kayu untuk bahan bakar memasak lilin yang digunakan dalam proses membatik.

"Mereka menggunakan bahan kayu bakar karena kesulitan memperoleh minyak tanah. Jika ada harganya sudah mahal, ehingga tidak terjangkau para perajin," katanya.

Ia mengatakan mereka mulai membiasakan diri tidak menggunakan minyak tanah dengan berganti menggunakan kayu bakar. Padahal, menggunakan kayu bakar untuk memanasi lilin sangat tidak efektif karena panas dari bara api kayu bakar tidak konstan, bahkan sering memercikan api yang bisa mengenai kain saat proses membatik.

Percikan dari bara kayu bakar bisa melubangi kain batik dan perajin akan menderita kerugian jika kain batik rusak. Namun, minyak tanah maha dan sulit diperoleh, perajin terpaksa menggunakan kayu bakar.

Menyinggung pemasaran produk kerajinan batik tulis Giriloyo, ia mengatakan sampai kini masih di kawasan terbatas seperti di Kota Yogyakarta, dengan menitipkan kepada galeri dan toko batik di kota itu. Selain itu, jika ada rombongan wisatawan, mereka membeli langsung kepada perajin.

Pengakuan UNESCO mengenai batik tulis sebagai warisan budaya asli Indonesia memang telah mengangkat penjulan batik tulis Giriloyo. Penjualan batik tulis naik sekitar 30 persen dibandingkan sebalum ada pengakuan dari UNESCO tersebut.

Untuk mendukung pemasaran produk batik tradisional di Giriloyo Wukirsari Imogiri, diperlukan promosi terutama dengan menyertakan perajin pameran di berbagai kegiatan baik di tingkat DIY maupun nasional.

Ia mengatakan pihaknya bekerja sama dengan balai pengembangan bisnis DIY akan menggelar pameran batik di gazebo sentra kerajinan batik tulis Giriloyo setiap tiga bulan sekali, katanya.
Mohon Perhatian Pemerintah !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar